Jumat, 24 Februari 2012

pengaruh lama pengomposan terhadap pertumbuhan jamur tiram

Untuk menambah referensi teman teman yang menyempatkan diri mampir disini, pada postingan kali ini saya mencoba membagikan hasil penelitian seorang calon sarjana di jambi yang bernama mbak yuliza tentang pengaruh lama pengomposan serbuk gergaji kayu sengon dengan menggunakan EM-4 terhadap pertumbuhan jamur tiram.

yuliza in blogger.com
 
Berikut hasil penelitian mbak yuliza tersebut, Mudah mudahan dapat menjadi pencerahan bagi kita bersama….


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pengaruh Lama Pengomposan Serbuk Gergaji Kayu Sengon (Albizia falcataria (L.) Fosberg) dengan Menggunakan EM-4 (Effective Microorganism-4) Terhadap Pertumbuhan Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus (Jacq. Ex.Fr) Kummer). 

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Provinsi Jambi merupakan salah satu daerah yang kaya akan hutan. Sebagian besar hutan dimanfaatkan untuk industri baik pengolahan bahan dasar pembuatan kertas maupun pembuatan perabotan rumah tangga seperti lemari, meja belajar dan lain-lain. Industri pengolahan kayu atau sawmill menghasilkan limbah yang kisarannya 45-60% berupa serbuk kayu dari total 5.192.924 hektar hutan di Provinsi Jambi (Anonim, 2010a:1).
Limbah serbuk kayu yang dihasilkan oleh industri kayu atau sawmill dalam skala industri rumah tangga maupun dalam skala industri besar belum dimanfaatkan secara optimal. Hasil observasi di daerah kota Jambi banyak sekali sawmill-sawmill sedangkan untuk provinsi Jambi didapatkan data dari dinas industri ada 120 industri kayu yang legal, sedangkan industri kayu yang ilegal sekitar 80 industri. Satu sawmill menghasilkan limbah kayu sekitar 100 kg per hari (Anonim, 2007:4-7).
Limbah kayu yang menumpuk dan tersia-siakan memiliki kandungan selulosa yang tinggi dan kandungan lignin yang rendah sehingga baik digunakan sebagai medium tumbuh jamur. Selulosa dibutuhkan jamur sebagai bahan makanan sedangkan lignin merupakan senyawa nonkarbohidrat yang memiliki sifat tahan terhadap penguraian biologis, akibatnya kayu yang memiliki kandungan lignin yang tinggi kurang baik untuk media tumbuh jamur karena proses penguraiannya lambat (Suriawiria, 1993:68).

Jenis serbuk kayu yang banyak terdapat di sawmil-sawmil antara lain akasia, dadap, rami, murbei, randu alas, karet dan sengon. Kayu sengon memiliki kandungan lignin yang rendah sekitar 25,7 % dan memiliki kandungan selulosa tinggi (Alfa-selulosa 46,0% dan Holo-selulosa 74,9 %) (Atmosuseno, 1996:11) lebih baik dibandingkan jenis kayu akasia (Alfa-selulosa 45,45%, Holo-selulosa 63,12% dan kandungan lignin yang tinggi 31,33%) (Lasmidha, 2007:32-40), murbei (Alfa-selulosa 21,8%, Holo-selulosa 10-40% dan lignin 16,19%), rami (Selulosa 26,33% dan Lignin 20,94%) (Mudyantini, 2008:269-274) sehingga kayu sengon merupakan media tumbuh jamur yang paling baik.
Kandungan lignin dan selulosa yang terdapat pada kayu sengon cocok menjadi media tumbuh jamur yang sering tumbuh di kayu, salah satunya jamur tiram (Pleurotus ostreatus). Jamur jenis ini merupakan jamur yang dapat dibudidayakan karena memiliki nilai ekonomis cukup tinggi. Kurangnya pembudidayaan jamur ini mengakibatkan jamur ini menjadi kurang populer. Selain dapat dimakan jamur ini juga bisa dijadikan sebagai obat dan sebagai campuran jamu-jamu di Indonesia. Ditinjau dari aspek biologinya, jamur tiram relatif lebih mudah dibudidayakan. Pengembangan jamur tiram tidak memerlukan lahan yang luas, masa produksi jamur tiram relatif lebih cepat sehingga periode dan waktu panen lebih singkat dan dapat kontinu (Djarijah, 2001:10).
Media tumbuh serbuk kayu sengon dapat dikomposkan terlebih dahulu supaya mendapatkan hasil yang baik, akan tetapi memakan waktu yang cukup lama sekitar setengah hingga satu tahun, untuk menghemat waktu maka digunakan aktivator atau dekomposer. Aktivator (dekomposer) ini adalah jasad renik (mikroba) yang bekerja mempercepat pelapukan bahan organik menjadi kompos. Aktivator pengomposan yang sudah banyak beredar antara lain PROMI (Promoting Microbes), OrgaDec, SuperDec, ActiComp, BioPos, EM-4 (Effective Microorganism-4), Green Phoskko Organic Decomposer, Superfarm atau menggunakan cacing guna mendapatkan kompos (vermicompost) (Isroi, 2008a:9).
Trichoderma menghasilkan enzim lignoselulosa sehingga sangat baik untuk mendekomposisi selulosa dan lignin tetapi Trichoderma sering kali menjadi masalah tertentu di dalam industri penanaman jamur karena bersifat parasit pada miselium dan badan buah dari jamur lain kemudian berkembang sangat cepat di permukaan membentuk koloni yang berwarna hijau, sehingga membuat jamur menjadi buruk dan mengubah bentuk jamur lain (Volk, 2004) oleh karena itu, tidak cocok untuk penelitian ini karena akan digunakan untuk media pertumbuhan jamur tiram, sehingga digunakan EM-4 (Effective Microorganism-4) sebagai aktivator dalam penelitian ini dan selain itu, Pembuatan pupuk organik dengan menggunakan aktivator EM-4 menghasilkan pupuk organik terbaik dan efisien (Asngad dan Suparti, 2005:112).
Menurut Sumardi (1999:22) EM-4 (Effective Microorganism-4) merupakan larutan yang mengandung beberapa kelompok mikroorganisme. Kelompok organisme tersebut adalah:
1). Bakteri fotosintetik bebas yang dapat mensintesis senyawa nitrogen, gula dan substansi bioaktif lainnya. Hasil metabolik yang diproduksi dapat diserap secara langsung oleh tanaman dan tersedia sebagai substrat untuk perkembangbiakan mikroorganisme yang menguntungkan.

2). Bakteri asam laktat ( Lactobasillus sp.) memproduksi asam laktat sebagai hasil penguraian gula dan karbohidrat lainnya yang bekerjasama dengan bakteri fotosintesis dan ragi. Asam laktat ini merupakan bahan sterilisasi yang kuat yang dapat menekan mikroorganisme berbahaya dan dapat menguraikan bahan organik dengan cepat.
3). Bakteri Streptomyces sp., mengeluarkan antibiotik streptomycin yang bersifat racun terhadap hama dan penyakit yang merugikan.
4). Ragi (Yeast), memproduksi substansi yang berguna bagi tanaman dengan cara fermentasi. Substansi bioaktif yang dihasilkan oleh ragi berguna untuk pertumbuhan sel dan pembelahan akar. Ragi juga berperan dalam perkembangan mikroorganisme lain yang menguntungkan, seperti Actinomycetes dan Lactobasillus sp.
5). Actinomycetes merupakan organisme peralihan antara bakteri dan jamur yang mengambil asam amino dan zat serupa yang diproduksi oleh bakteri fotosintesis dan mengubahnya menjadi antibiotik untuk mengendalikan patogen, menekan jamur dan bakteri berbahaya dengan cara menghancurkan khitin yaitu zat esensial untuk pertumbuhannya.
Lama waktu yang dibutuhkan untuk pengomposan antara 2 hingga 6 minggu tergantung dari bahan yang dikomposkan. Bahan-bahan yang lunak dapat dikomposkan dalam waktu yang singkat, 2 – 3 minggu. Bahan-bahan yang keras membutuhkan waktu antara 4 – 6 minggu. Untuk media serbuk kayu sengon termasuk jenis bahan-bahan yang keras tetapi dapat dihaluskan terlebih dahulu dengan dibuat serbuk, sehingga menjadi bahan-bahan yang lunak (Anonim, 2008a:1-2).
Berdasarkan uraian diatas penulis melakukan penelitian tentang Pengaruh Lama Pengomposan Serbuk Gergaji Kayu Sengon (Albizia falcataria (L.) Fosberg) dengan Menggunakan EM-4 (Effective Microorganism-4) Terhadap Pertumbuhan Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus (Jacq. Ex.Fr) Kummer).

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang ada maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah lama pengomposan serbuk kayu sengon yang berbeda berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur tiram (Pleurotus ostreatus)?
2. Pada lama pengomposan berapakah yang memberikan pertumbuhan terbaik pada jamur tiram (Pleurotus ostreatus)?

1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Mengetahui pengaruh lama pengomposan serbuk kayu sengon yang berbeda terhadap pertumbuhan jamur tiram (Pleurotus ostreatus).
2. Mengetahui lama pengomposan yang memberikan pertumbuhan terbaik pada pertumbuhan jamur tiram (Pleurotus ostreatus).

1.4 Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian ini adalah:
1. Perlakuan lama pengomposan serbuk kayu sengon mempengaruhi pertumbuhan jamur tiram (Pleurotus ostreatus) yang berbeda.
2. Terdapat pertumbuhan yang terbaik dari jamur tiram (Pleurotus ostreatus) dengan menggunakan lama pengomposan serbuk kayu sengon yang berbeda.

1.5 Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan penelitian yaitu:
1. Bibit jamur tiram (Pleurotus ostreatus) yang digunakan diperoleh dari “Pembudidayaan Jamur Tiram” Simpang Rimbo.
2. Substrat yang digunakan adalah serbuk kayu sengon yang didapatkan dari sawmill di Seberang kota Jambi.

1.6 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk:
1. Menambah khasanah ilmu pengetahuan di bidang biologi khususnya Mikrobiologi.
2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan praktikum pada Progam Studi Biologi khususnya mata kuliah Mikologi.
3. Memberikan anjuran kepada masyarakat untuk memanfaatkan serbuk kayu untuk budidaya jamur tiram (Pleurotus ostreatus).












BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Limbah Industri Kayu
Industri kayu menghasilkan banyak limbah kayu. Limbah kayu dapat dibedakan menjadi 2 golongan, yaitu limbah eksploitasi (limbah yang terjadi di hutan di tempat tebangan dan di tempat pengumpulan) dan limbah pabrik (industri kayu). Besarnya limbah industri kayu lebih kurang 50% dari limbah penggergajian, merupakan kayu yang tersisa akibat proses penggergajian yang bentuknya dapat berupa serbuk, serbetan, potongan dan serutan (Anonim, 2003:21).
Dalam pemanfaatan limbah industri untuk budidaya jamur, limbah kayu yang berupa batang dapat langsung diinokulasikan dengan jamur dan yang berupa serbuk dapat diberi perlakuan tertentu untuk memberikan kondisi yang cocok bagi pertumbuhan jamur (Suprapti dan Djarwanto, 1997:19).

2.2 Kayu Sengon (Albizia falcataria)
Salah satu kelebihan dari kayu sengon adalah pertumbuhannya cepat. Ciri-ciri kayu jenis ini yaitu pohon berukuran sedang sampai besar, tinggi dapat mencapai 40 m. Tidak berbanir, kulit licin, berwarna kelabu muda, bulat agak lurus. Diameter pohon dewasa bisa mencapai 100 cm atau lebih. Tajuk berbentuk perisai, jarang, selalu hijau. Daun sengon tersusun majemuk menyirip ganda panjang dapat mencapai 40 cm, terdiri dari 8 – 15 pasang anak tangkai daun yang berisi 15 – 25 helai daun, dengan anak daunnya kecil-kecil dan mudah rontok (Nasution, 2008:1).

Gambar 1.1 Pohon Sengon.

Pohon sengon (Gambar 1.1) mempunyai warna daun hijau pupus, berfungsi untuk memasak makanan dan sekaligus sebagai penyerap nitrogen dan karbon dioksida dari udara bebas serta sebagai pakan ayam dan kambing. Akar Sengon memiliki akar tunggang yang cukup kuat menembus ke dalam tanah, akar rambutnya tidak terlalu besar, tidak rimbun dan tidak menonjol kepermukaan tanah. Akar rambutnya berfungsi untuk menyimpan zat nitrogen, oleh karena itu tanah di sekitar pohon sengon menjadi subur. Bunga tanaman sengon tersusun dalam bentuk malai berukuran sekitar 0,5–1cm, berwarna putih kekuning-kuningan dan sedikit berbulu. Setiap kuntum bunga mekar terdiri dari bunga jantan dan bunga betina, dengan cara penyerbukan yang dibantu oleh angin atau serangga (Nasution, 2008:1).
Buah sengon berbentuk polong, pipih, tipis, tidak bersekat-sekat dan panjangnya sekitar 6 – 12 cm. Setiap polong buah berisi 15 – 30 biji. Bentuk biji mirip perisai kecil, waktu muda berwarna hijau dan jika sudah tua biji akan berubah kuning sampai berwarna coklat kehitaman,agak keras, Pipih, dan lonjong, 3 – 4 x 6 – 7 mm, warna hijau, bagian tengah coklat. Jumlah benih 40.000 butir/kg. Daya berkecambah rata-rata 80%. Berat 1.000 butir 16 – 26 gam.
Kayu sengon merupakan kayu serba guna untuk konstruksi ringan, kerajinan tangan, kotak cerutu, veneer, kayu lapis, korek api, alat musik, pulp.. Ditanam sebagai pohon pelindung, tanaman hias, reboisasi dan penghijauan. Sengon dapat digunakan untuk berbagai produk seperti kayu olahan, kerajinan tangan dan kontruksi ringan (Nasution, 2008:1).
Menurut Tjitrosoepomo (2000), klasifikasi dari kayu sengon (Albizia falcataria) adalah sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledon
Ordo : Rosales
Famili : Leguminosae
Genus : Albizia
Spesies : Albizia falcataria

2.3 Komponen Kimia Kayu Sengon
Komponen kimia suatu kayu dapat menentukan kegunaan suatu jenis kayu. Pada umumnya komponen kimia jenis kayu terdiri dari beberapa unsur penyusunnya, yaitu unsur karbohidrat terdiri dari selulosa dan hemiselulosa dan unsur non-karbohidrat terdiri dari lignin.

Tabel 2.1 Komponen Kimia Kayu Keras dan Kayu Lunak
Komponen Kimia Golongan Kayu
Kayu Daun Lebar (%) Kayu Daun Jarum (%)
Selulosa
Lignin
Pentosan
Zat Ekstraktif
Abu 40 – 45
18 - 33
21 - 24
1 - 12
0,22 – 6 41 – 44
28 - 32
8 - 13
2,03
0,89

(Dumanauw,2001:30).
Selulosa adalah polisakarida yang terdiri dari molekul-molekul β-D-glukosa dan mempunyai massa molekul relatif yang sangat tinggi, tersusun dari 2.000-3.000 glukosa. Rumus molekul selulosa adalah (C6H10O5)n. Selulosa terdapat dalam tumbuhan sebagai bahan pembentuk dinding sel dan serat tumbuhan. Bahan dasar selulosa adalah glukosa dengan rumus C6H12O6. Molekul- molekul glukosa disambung menjadi molekul-molekul besar, panjang, dan berbentuk rantai dalam susunan menjadi selulosa. Lignin merupakan bagian yang bukan karbohidrat, sebagai persenyawaaan kimia yang jauh dan sederhana, tidak berstruktur,dan amorf. Hemiselulosa berupa selulosa yaitu persenyawaan dengan molekul-molekul besar yang bersifat karbohidrat. Hemiselulosa tersusun oleh gula dengan rumus kimia C6H10O6 disebut hexosan (Dumanauw,2001:30-31). Komponen kimia kayu sengon dapat dilihat pada Tabel 2.2
Tabel 2.2 Komponen Kimia Kayu Sengon
Komponen Kimia Kadar (%)
Lignin 25,7
Holo-selulosa 84,9
Alfa-Selulosa 46,0
Pentosan 16,4
Abu 0,86
Kelarutan
- Alkana benzene 5,3
- Air Panas 9,7
- NaoH 1% 14,19
(Anonim, 2000).

Gambar 1.2 Struktur Molekul Selulosa.

Gambar 1.3 Struktur Molekul Hemiselulosa.


Gambar 1.4 Struktur Molekul Lignin.
2.4 Pengomposan Serbuk Gergaji
Kompos adalah sisa-sisa mahluk hidup yang telah mengalami pelapukan, bentuknya sudah berubah seperti tanah dan tidak berbau dan memiliki kandungan hara NPK yang lengkap meskipun persentasenya kecil. Kompos juga mengandung senyawa-senyawa lain yang sangat bermanfaat bagi tanaman. Ibarat multivitamin bagi tanah dan tanaman, kompos memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah, dan mengembalikan kesuburan tanah. Tanah keras akan menjadi lebih gembur, tanah miskin akan menjadi subur, tanah masam akan menjadi lebih netral. Tanaman yang diberi kompos tumbuh lebih subur dan kualitas panennya lebih baik daripada tanaman tanpa kompos (Anonim, 2009a:1-2).
Pada prinsipnya semua bahan yang berasal dari mahluk hidup atau bahan organik dapat dikomposkan. Seresah, daun-daunan, pangkasan rumput, ranting, dan sisa kayu dapat dikomposkan. Ada bahan yang mudah dikomposkan dan ada yang sulit dikomposkan. Sebagian besar bahan organik mudah dikomposkan. Bahan yang sulit dikomposkan antara lain: batang, dan bambu, kayu-kayu yang sangat keras, tulang, rambut, tanduk, dan bulu binatang (Isroi, 2008b:2).
Secara alami bahan organik yaitu serbuk gergaji akan mengalami pelapukan menjadi kompos, tetapi waktunya lama antara setengah sampai satu tahun tergantung bahan dan kondisinya. Agar proses pengomposan dapat berlangsung lebih cepat perlu perlakuan tambahan. Pembuatan kompos dipercepat dengan menambahkan aktivator atau inokulum atau biang kompos. Aktivator ini adalah jasad renik (mikroba) yang bekerja mempercepat pelapukan bahan organik menjadi kompos. Bahan organik yang lunak dan ukurannya cukup kecil dapat dikomposkan tanpa harus dilakukan pencacahan. Tetapi bahan organik yang besar dan keras, sebaiknya dicacah terlebih dahulu (Isroi, 2008b:4).
Aktivator kompos harus dicampur merata ke seluruh bahan organik agar proses pengomposan berlangsung lebih baik dan cepat. Bahan yang akan dibuat kompos juga harus cukup mengandung air. Air ini sangat dibutuhkan untuk kehidupan jasad renik di dalam aktivator kompos. Bahan yang kering lebih sulit dikomposkan. Akan tetapi kandungan air yang terlalu banyak juga akan menghambat proses pengomposan, jadi basahnya harus cukup. Bahan juga harus cukup mengandung udara. Seperti halnya air, udara dibutuhkan untuk kehidupan jasad renik aktivator kompos. Untuk melindungi kompos dari lingkungan luar yang buruk, kompos perlu ditutup. Penutupan ini bertujuan untuk melindungi bahan/jasad renik dari air hujan, cahaya matahari, penguapan dan perubahan suhu. Bahan didiamkan selama beberapa waktu hingga kompos matang. Lama waktu yang dibutuhkan antara 2 minggu sampai 6 minggu tergantung dari bahan yang dikomposkan. Bahan-bahan yang lunak dapat dikomposkan dalam waktu yang singkat, 2 – 3 minggu. Bahan-bahan yang keras membutuhkan waktu antara 4 – 6 minggu. Pengomposan serbuk kayu sengon termasuk ke dalam bahan-bahan yang lunak sehingga dapat dikomposkan dalam waktu singkat 2 – 3 minggu. Ciri kompos yang sudah matang adalah bentuknya sudah berubah menjadi lebih lunak, warnanya coklat kehitaman, tidak berbau menyengat, dan mudah dihancurkan/remah (Anonim, 2009a:2).
Pengomposan serbuk gergaji kayu sengon dapat dilakukan dengan metode karung, yaitu serbuk gergaji kayu sengon diaduk hingga rata kemudian siram permukaan serbuk kayu sengon dengan aktivator yaitu EM-4 (Effective Microorganism- 4) secara merata kemudian masukkan ke dalam karung, setelah diangin-anginkan sebentar kemudian karung diikat agar tidak diacak-acak kucing, anjing, atau ayam. Karung ditusuk-tusuk dengan obeng atau alat lainnya secara merata agar oksigen (udara segar) bisa masuk. Lalu simpan di tempat yang tidak kehujanan dan tidak terkena sinar matahari langsung.
Proses yang terjadi pada pengomposan Serbuk gergaji kayu sengon yaitu pada minggu ke-1 dan ke-2 mikroba mulai bekerja, suhu mencapai 45-65oC. Karung terasa hangat bila dipegang. Minggu ke-3 dan ke-4 suhu mulai menurun menjadi sekitar 40oC. Minggu ke-5 dan ke-6 suhu kembali normal seperti suhu tanah, kompos sudah jadi/matang. Kompos yang sudah jadi berwarna coklat kehitam-hitaman dan0020baunya seperti tanah. Kompos bisa disimpan di dalam karung sebelum digunakan (Anonim, 2008b:1-3).
Efektivitas proses pembuatan kompos sangat tergantung kepada mikroorganisme pengurai. Apabila mereka hidup dalam lingkungan yang ideal, maka mereka akan tumbuh dan berkembang dengan baik pula. Kondisi lingkungan yang ideal mencakup :
1. Keseimbangan nutrien ( C / N ratio );
2. Kelembaban;
3. Derajat keasaman;
4. Suhu;
5. Ukuran partikel; dan
6. Homogenitas campuran.

1. Keseimbangan Nutrien (Rasio C/N).
Parameter nutrien yang paling penting dalam proses pembuatan kompos adalah unsur karbon dan nitrogen. Dalam proses pengurai terjadi reaksi antara karbon dan oksigen sehingga menimbulkan panas (CO2). Nitrogen akan ditangkap oleh mikroorganisme sebagai sumber makanan. Apabila mikroorganisme tersebut mati, maka nitrogen akan tetap tinggal dalam kompos sebagai sumber nutrisi bagi makanan. Besarnya perbandingan antara unsur karbon dengan nitrogen tergantung pada jenis bahan baku. Perbandingan C dan N yang ideal dalam proses pengomposan yang optimum berkisar antara 20 : 1 sampai dengan 40 : 1, dengan rasio terbaik adalah 30 : 1. Karakter terpenting bahan organik dan berguna untuk mendukung proses pengomposan adalah rasio karbon (C) dan nitrogen (N). Perbandingan jumlah karbon dan nitrogen dalam bahan organik dinamakan rasio karbon : nitrogen atau rasio C/N. Nitrogen merupakan unsur hara paling penting dan jika tersedia dalam bahan organik awal maka unsur hara lainnya tersedia pula dalam jumlah cukup. Jika perbandingannya jauh lebih tinggi, maka prosesnya akan memakan waktu yang lama, sedangkan bila lebih kecil maka nitrogen akan dilepaskan sebagai amonia (Sulaeman, 2006:2).
2. Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman (pH) ideal dalam proses pembuatan kompos secara aerobik berkisar pada pH netral (6 – 7,5), sesuai dengan pH yang dibutuhkan tanaman. Pada proses awal, sejumlah mikroorganisme akan mengubah sampah organik menjadi asam-asam organik, sehingga derajat keasaman akan selalu menurun. Pada proses selanjutnya derajat keasaman akan meningkat secara bertahap yaitu pada masa pematangan, karena beberapa jenis mikroorganisme memakan asam-asam organik yang terbentuk tersebut.
Derajat keasaman dapat menjadi faktor penghambat dalam proses pembuatan kompos, yaitu dapat terjadi apabila :
- pH terlalu tinggi (di atas 8) , unsur N akan menguap menjadi NH3. NH3 yang terbentuk akan sangat mengganggu proses karena bau yang menyengat. Senyawa ini dalam kadar yang berlebihan dapat memusnahkan mikroorganisme.
- pH terlalu rendah (di bawah 6), kondisi menjadi asam dan dapat menyebabkan kematian jasad renik.

3. Suhu (Temperatur)
Proses biokimia dalam proses pengomposan menghasilkan panas yang sangat penting bagi mengoptimumkan laju penguraian dan dalam menghasilkan produk yang secara mikroorganisme aman digunakan. Pola perubahan temperatur dalam tumpukan sampah bervariasi sesuai dengan tipe dan jenis mikroorganisme. Pada awal pengomposan, temperatur mesofilik, yaitu C akan
°antara 25 – 45 terjadi dan segera diikuti oleh temperatur C. Temperatur termofilik dapat berfungsi untuk°termofilik antara 50 - 65 mematikan bakteri/bibit penyakit baik patogen maupun bibit vektor penyakit seperti lalat.

4. Ukuran Partikel Sampah
Ukuran partikel sampah yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan kompos harus sekecil mungkin untuk mencapai efisiensi aerasi dan supaya lebih mudah dicerna atau diuraikan oleh mikroorganisme. Semakin kecil partikel, semakin luas permukaan yang dicerna sehingga pengurai dapat berlangsung dengan cepat kemudian untuk mencapai penguraian bahan organik yang optimal, diperlukan bahan organik yang relatif seragam dalam kurang dan rasio karbon : nitrogen (rasio C/N). Ukuran bahan berpengaruh terhadap kecepatan bahan tersebut terurai, bahan yang memiliki ukuran yang lebih kecil akan lebih cepat terdekomposisi dari pada bahan dengan ukuran yang besar.

5. Kelembaban Udara
Kandungan kelembaban udara optimum sangat diperlukan dalam proses pengomposan. Kisaran kelembaban yang ideal adalah 40 – 60 % dengan nilai yang paling baik adalah 50 %. Kelembaban yang optimum harus terus dijaga untuk memperoleh jumlah mikroorganisme yang maksimal sehingga proses pengomposan dapat berjalan dengan cepat. Apabila kondisi tumpukan terlalu lembab, tentu dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme karena molekul air akan mengisi rongga udara sehingga terjadi kondisi anaerobik yang akan menimbulkan bau. Bila tumpukan terlalu kering (kelembaban kurang dari 40%) dapat mengakibatkan berkurangnya populasi mikroorganisme pengurai karena terbatasnya habitat yang ada.

2.5 Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus)
Jamur adalah tumbuhan yang berinti, berspora, tidak berklorofil, berupa sel atau benang bercabang-cabang dengan dinding sel dari selulosa atau dari kitin atau dari keduanya dan pada umumnya berkembang biak secara seksual dan aseksual (Kimball, 1999:253). Berbagi jenis jamur telah sejak lama melengkapi susunan menu makanan sehari-hari, seperti jamur tiram dan jamur kuping baik di Indonesia, Malaysia, Singapura ataupun di bagian Eropa. Jamur Tiram memiliki khasiat yang baik karena mengandung rata-rata 19-35% protein dibandingkan dengan beras 7,3%, gandum 13,2%, sedangkan kandungan protein kedele yang paling tinggi 39,1% serta susu 25,2% (Suriawiria, 2000:7-9).
Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) atau jamur tiram putih adalah jamur pangan dengan tudung berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung dan berwarna putih hingga krem.Tubuh buah memiliki batang yang berada di pinggir (bahasa Latin: pleurotus) dan bentuknya seperti tiram (ostreatus), sehingga jamur tiram mempunyai nama binomial Pleurotus ostreatus. Jamur tiram masih satu kerabat dengan Pleurotus eryngii atau King Oyster Mushroom. Tubuh buah mempunyai tudung yang berubah dari hitam, abu-abu, coklat, hingga putih dengan permukaan yang hampir licin dengan diameter 5-20 cm. Tepi tudung mulus sedikit berlekuk. Spora berbentuk batang berukuran 8-11×3-4μm. Jamur tiram termasuk organisme yang bersifat saprofit yaitu organisme yang hidup pada bahan organik yang sudah tidak berguna, misalnya kayu lapuk dari beberapa jenis Angiospermae. Jamur tiram tumbuh dan berkembang sepanjang tahun di berbagai iklim tropis dan sub tropis. Di negara yang mempunyai 4 musim jamur tiram tumbuh baik pada musim panas. Di Indonesia jamur tiram bisa tumbuh saat musim hujan maupun kemarau. Syarat rumah jamur suhu ruangan tidak lebih dari 28oC kelembaban ruangan 80-90%. Miselium tumbuh optimal pada suhu 25-23oC, sedangkan pertumbuhan tubuh buah optimum pada suhu 18-20oC, lingkungan substrat yang dikehendaki dengan pH 5,5 sampai pH 7 lebih dari itu pertumbuhan akan terganggu. Kadar air media yang cocok sekitar 60%. Cahaya yang disukai selama pertumbuhan jamur tiram dengan penyinaran tidak langsung. Tidak lebih dari 40 lux. Kelembaban ruangan penyimpanan 80-85% baik untuk pertumbuhan tubuh buah (Sumarni, 2006:29-30)
Di alam bebas, jamur tiram bisa dijumpai hampir sepanjang tahun di hutan pegunungan daerah yang sejuk. Tubuh buah terlihat saling bertumpuk di permukaan batang pohon yang sudah melapuk atau pokok batang pohon yang sudah ditebang. Pembudidayaan jamur tiram biasanya dilakukan dengan media tanam serbuk gergaji. Selain campuran pada berbagai jenis masakan, jamur tiram merupakan bahan baku obat statin. Jamur tiram diketahui membunuh dan mencerna nematoda yang kemungkinan besar dilakukan untuk memperoleh nitrogen. Jamur tiram memiliki ciri yang khas, berupa benang tunggal (becabang-cabang) yang disebut miselium, tidak berklorofil, sehingga hidupnya heterotrof. Golongan jamur ini mencakup lebih dari 55.000 spesies (Dwijoseputro, 1991:146-147).
Menurut Dwidjoseputro (1978:265-277), klasifikasi jamur tiram (Pleurotus ostreatus) sebagai berikut:
Regnum : Fungi

Divisio : Basidiomycota

Kelas : Homobasidiomycetes

Ordo : Agaricales

Famili : Agaricaceae
Genus : Pleurotus

Spesies : Pleurotus ostreatus


Gambar 1.2 Jamur Tiram








BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Percobaan
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan adalah lamanya waktu pengomposan serbuk gergaji kayu sengon yaitu:
U1 = Kontrol Serbuk kayu dari Budidaya (Tanpa Pemberian EM4)
U2 = Lama pengomposan 4 minggu
U3 = Lama pengomposan 5 minggu
U4 = Lama pengomposan 6 minggu
U5 = Lama pengomposan 7 minggu
Setiap perlakuan diulang 5 kali, sehingga jumlah unit percobaan adalah 5 x 5 = 25 satuan percobaan (Lampiran 1), model linear dari rancangan acak lengkap yaitu:
Yij = µ + ti + ∑ij
Dimana i = 1,2,3,…,t
Yij = pengamatan pada perlakuakn ke- i dan ulangan ke- j
µ = rataan umum
ti = pengaruh perlakuan ke-i
∑ij = pengaruh acak pada perlakuan ke-i ulangan ke-j
(Mattjik dan Sumertajaya, 2000:64)


3.2 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Laminar air flow, autoklaf, botol, kapas, sprayer, karet gelang, cincin paralon, rak, kubung (rumah jamur), plastik polipropilen, oven, penggaris dan timbangan. Bahan yang digunakan adalah Alkohol 70%, Aquades merupakan salah satu faktor untuk kelancaran pertumbuhan miselium, agar dapat membentuk spora. Bila kelebihan air maka akan mati karena jamur membutuhkan air dalam jumlah sedikit (Suriawiria, 2009:38), bibit jamur tiram (Pleurotus ostreatus) yang siap diinokulasi didapat dari CV. Volva Indonesia, Sleman, Jogjakarta. Kemudian bahan lainnya yaitu serbuk kayu sengon (Albizia falcataria) di dapat dari sawmill Seberang kota Jambi, serbuk kayu merupakan tempat tumbuh jamur kayu yang mengandung serat organik (selulosa, hemi selulosa, dan lignin) sebagai sumber makanan jamur, dedak dan gypsum di dapat di toko pertanian berfungsi sebagai sumber nutrien atau makanan dalam bentuk unsur-unsur nitrogen, fosfor, karbon, dll (Suriawiria, 2009:38), kapur untuk menetralkan proses produksi pada bahan baku yang terlalu asam. Kapur yang digunakan sebagai bahan campuran media adalah kapur pertanian yaitu kalsium karbonat (CaCO3) (Parjimo, 2007), dan EM-4 (Effective Microorganism- 4) di dapat dari PT.Songgolangit Persada, Jakarta.
3.3 Waktu Dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di laboratorium UPMIPA FKIP Universitas Jambi dan di Budidaya Jamur Simpang Rimbo, Propinsi Jambi, pada Bulan Januari sampai Mei 2010

3.4 Prosedur Kerja
3.4.1 Sterilisasi Alat dan Bahan
Sebelum digunakan alat dan bahan terlebih dahulu disterilkan supaya terhindar dari kontaminasi mikroba yang tidak dikehendaki. Untuk alat dan bahan yang terbuat dari kaca, logam dan kertas, disterilkan pada oven dengan suhu 170oC selama 1 jam. Sedangkan untuk media, dapat disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121oC tekanan uap air 15 lbs selama 15 menit (Lampiran 5) (Hadioetomo, 1996:59-69).
3.4.2 Kubung atau Rumah Jamur
Tempat pertumbuhan jamur disebut dengan kubung atau rumah jamur yang berguna untuk melindungi jamur dari berbagai hama penyakit (Istuti, 2008:3). Kubung dibuat dengan ukuran 2 meter persegi dengan cara menggunakan plastik polipropilen 2 kg dengan diameter 18 cm dan jarak antar plastik polipropilen 15 cm dan alasnya terbuat dari bambu dan beratap rumbia dengan tinggi 2 meter dan dinding ditutupi kain kasa (Lampiran 5) (Anonim, 2004:1).
3.4.3 Pembuatan Media Jamur
Pembuatan substrat jamur, pertama serbuk diayak. Tujuannya agar kayu-kayu dan dedak yang tajam yang dapat melubangi kantong plastik saat penelitian dapat terjaring, karena kantong plastik yang berlubang dapat menimbulkan kontaminasi bakteri. Kemudian serbuk kayu sebanyak 5 kg per karung (untuk satu perlakuan, lima kali ulangan) disiram dengan aktivator EM-4 secara merata sebanyak 10 ml/l lalu dikomposkan dengan lama waktu yang berbeda yaitu 4, 5, 6 dan 7 minggu. Pada saat pengomposan dilakukan pembalikan, hal ini dimaksudkan untuk memberi udara alami pada tumpukan kompos, menjaga suhu, dan kelembapan kompos (Sulaeman, 2006:3). Lalu setelah sampai waktu 4, 5, 6 dan 7 minggu dengan satu waktu karung komposan dibuka lalu dicampur dengan dedak, kapur, gypsum, dan air yang komposisinya sudah ditentukan, diaduk rata. Banyak media per perlakuan yaitu 1.230 g dengan rincian 1000 g serbuk kayu sengon + 200 g dedak padi + kapur 20 g +gypsum 10 g + air 1700 ml. Setelah itu dimasukkan ke dalam kantong plastik polipropilen 2 Kg dan dipadatkan. Ujung kantong plastik diberi cincin paralon dan lubang bagian atasnya ditutup dengan kapas, kapas penyumbat ditutup dengan kertas pembungkus yaitu koran lalu kantong plastik yang sudah berisi media tersebut disterilkan dengan menggunakan autoklaf. Kemudian didinginkan, setelah dingin siap di inokulasi dengan inokulan jamur tiram (Lampiran 5) (Widya, 2007:90).
3.4.4 Inokulasi Bibit Jamur
Setelah media steril, dilakukan inokulasi bibit jamur ke dalam media tersebut di dalam laminar air flow. Untuk tiap kantong plastik diberi bibit jamur sebanyak 2 gram. Caranya bibit jamur yamg padat dihancurkan dengan cara ditusuk-tusuk menggunakan spatula, lalu segera dituangkan bibit jamur sebanyak 2 gram ke dalam media tersebut. Selanjutnya lubang cincin pada kantong media ditutup kembali dengan kapas penyumbat. Dilakukan hal yang sama untuk menginokulasi bibit ke dalam tiap media yang lain. Setelah 40 hari, plastik dibuka dan baru boleh disiram (Anonim, 2007:7).
3.4.5 Panen
Jamur tiram dipanen saat pertumbuhan tubuh buah telah optimal. Masa pertumbuhan ini ditandai oleh ukuran dan bentuk tubuh buah yang maksimal dan sempurna, ciri pertumbuhan jamur yang sudah optimal yaitu tudung jamur kenyal, diameter 3-14 cm dan berwarna putih susu atau putih kekuning-kuningan (Djarijah, 2001:12). Waktu panen paling tepat adalah umur 4-5 hari terhitung sejak pembentukan calon tubuh buah (Pin head). Biasanya pertumbuhan tunas dan tubuh buah jamur tiram dalam setiap rumah jamur tidak serentak. Dengan demikian pelaksanaan pemanenan dilakukan setiap hari dengan memilih jamur-jamur yang memiliki pertumbuhan optimal (Djarijah, 2001:47-48). Biasanya, tubuh buah jamur akan terbentuk setelah 1-2 bulan dari penempatan baglog di rumah jamur (kubung jamur) (Sunarmi dan Saparinto, 2010:56). Pemanenan dilakukan dengan cara mencabut seluruh bagian jamur yang ukurannya sudah optimal (Lampiran 5) (Muchroji dan Cahyana, 2003:34).
3.5 Parameter Penelitian
3.5.1 Diameter Tubuh Jamur Tiram (cm)
Diameter jamur tiram diukur dengan penggaris, dengan arah horizontal dari titik tumbuh.
3.4.2 Berat Basah Jamur Tiram (g)
Tubuh buah jamur yang sudah dipanen kemudian ditimbang dengan menggunakan timbangan analitik.
3.4.3 Berat Kering Jamur Tiram (g)
Tubuh buah jamur tiram dikeringkan dalam oven pada suhu 80oC hingga bobot tetap.
3.4.4 Kadar Air Jamur Tiram (%)
Kadar air jamur tiram (%) di dapat setelah menimbang berat basah (berat awal) dan berat kering (berat yang didapat setelah di keringkan di oven hinggga bobot tetap), rumus yang digunakan untuk mencari kadar air yaitu :
Kadar Air (%) = A – B x 100%
A
Dimana :
A = Berat Basah /Berat Awal (g)
B = Berat Kering /Berat Akhir (g)
(Sumiati dan Djuariah, 2005:179)
3.4.5 Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman Media tanam jamur tiram diukur dengan menggunakan pH meter. Dengan menggunakan media tanam masing-masing perlakuan dan dicampur dengan aquades dengan perbandingan 1 : 2,5. Pengukuran derajat keasaman menggunakan alat pH meter. Secara lengkapnya dapat di lihat pada Lampiran 8 yang caranya adalah sebagai berikut: sebelum digunakan alat dikalibrasi dengan menggunakan larutan buffer pH 4. Sekitar 25 ml sampel dimasukkan ke dalam gelas piala. Elektroda pH meter dicelupkan ke dalam sampel, kemudian dilakukan pembacaan pH sampel setelah dicapai nilai yang tetap (Cahyadi, 2006:185).

3.6 Analisis Data
Untuk melihat pengaruh masing - masing perlakuan terhadap pertumbuhan jamur tiram (Pleurotus ostreatus), data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA). Apabila berbeda nyata yaitu Fhitung lebih besar dari Ftabel maka dilanjutkan dengan uji Duncan New Multiple Range Test (DNMRT) pada taraf nyata 5% (Mattjik dan Sumertajaya, 2000:88).







BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian
4.1.1. Diameter Tudung Jamur Tiram (cm)
Berdasarkan analisis ragam (Lampiran 3) dapat terlihat bahwa perlakuan penambahan EM-4 dengan lama waktu pengomposan yang berbeda-beda memberikan pengaruh nyata terhadap diameter tudung jamur tiram. Berdasarkan Gambar 4.1 memperlihatkan lama pengomposan 7 minggu (U5) sebesar 7,32 berbeda nyata dengan perlakuan kontrol (U1) dan lama pengomposan 4 minggu (U2), tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan lainnya, yaitu perlakuan lama pengomposan 6 minggu (U4) dan 5 minggu (U3).
Gambar 4.1 Histogam rata-rata diameter tudung jamur tiram

4.1.2. Berat Basah Jamur Tiram (g)

Berdasarkan hasil analisis ragam pada berat basah jamur tiram didapatkan hasil pada perlakuan lama pengomposan 7 minggu (U5) yaitu 89,93 berbeda nyata dengan perlakuan lama pengomposan 5 minggu (U3) dan 4 minggu (U2) dan kontrol (tanpa pemberian EM-4) (U1) tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan lama pengomposan 6 minggu (U4). Rata-rata berat basah jamur tiram dapat dilihat pada Gambar 4.4


Gambar 4.4 Histogam rata-rata berat basah jamur tiram





4.1.3. Berat Kering Jamur Tiram (g)
Berdasarkan analisis ragam (Lampiran 3) pemberian EM-4 pada serbuk kayu sengon dan dikomposkan dengan lama waktu yang berbeda-beda memberikan pengaruh nyata terhadap hasil berat kering jamur tiram. Pada perlakuan lama pengomposan 7 minggu (U5) dengan rata-rata berat jamur sebesar 9,45 g tidak berbeda nyata dengan perlakuan lama pengomposan 6 mingggu (U4), tetapi berbeda nyata dengan perlakuan lainnya, yaitu 5 minggu (U3) dan 4 minggu (U2) dan kontrol (U1). Rata-rata berat kering yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 4.2

Gambar 4.2 Histogam rata-rata berat kering jamur tiram


4.1.4. Derajat Keasaman (pH)
Berdasarkan hasil analisis ragam pada pH media akhir jamur tiram didapatkan hasil pada perlakuan lama pengomposan 7 minggu (U5) yaitu 6,85 berbeda nyata dengan perlakuan lama pengomposan 4 minggu (U2) yaitu 6,05 dan kontrol (tanpa pemberian EM-4) (U1) yaitu 6,25 tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan lama pengomposan 6 minggu (U4) dan 5 minggu (U3). Rata-rata pH media akhir setelah pemanenan dapat dilihat pada Gambar 4.3


Gambar 4.3 Histogam rata-rata pH akhir media jamur tiram






4.1.5. Kadar Air Jamur Tiram (%)
Berdasarkan hasil analisis ragam pada kadar air jamur tiram (%) didapatkan hasil nilai Fhitung kecil dari nilai Ftabel. Hal ini menunjukkan kadar air jamur tiram tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur tiram putih (Pleorotus ostreatus).



4.2 Pembahasan
Gambar 4.1, Gambar 4.2 dan Gambar 4.3 menunjukkan pada lama pengomposan serbuk kayu sengon dengan menggunakan aktivator EM-4 selama 7 minggu (U5), 6 minggu (U4), 5 minggu (U3) dan 4 minggu (U2) baik diameter tudung jamur, berat basah dan berat kering jamur tiram berbeda nyata dengan perlakuan kontrol ( tidak dikomposkan dengan EM-4). Hal ini disebabkan karena pada perlakuan lama pengomposan 7 minggu (U5), 6 minggu (U4), 5 minggu (U3) dan 4 minggu (U2) serbuk kayu yang digunakan adalah kayu sengon yang mengandung lignin yang rendah sekitar 25,7 % dan memiliki kandungan selulosa tinggi (Alfa-selulosa 45,0% dan Holo-selulosa 74,9 %), sedangkan pada media kontrol serbuk kayu yang digunakan dari tempat budidaya jamur tiram yaitu campuran kayu karet dan kayu bulian (kandungan selulosa pada kayu karet 57,38% serta lignin 20,68%) (Boerhendy, 2006:1), pada kayu bulian kandungan selulosanya 58% dan lignin 28,9% (Hobbs dan King, 1960: 4736). Hal lain yang mempengaruhi yaitu pada media kontrol juga tidak ditambahkan EM-4 yang menyebabkan proses penguraian bahan organik menjadi senyawa yang lebih sederhana berjalan lambat, akibatnya kandungan selulosa pada media kontrol tidak terdekomposisi dengan baik, hal ini menyebabkan asupan bahan makanan jamur tiram terhambat (Atmosuseno, 1996:11).
Menurut Gandjar, et al., (2006:44) substrat (media tumbuh) merupakan sumber nutrien utama bagi jamur. Nutrien-nutrien baru dapat dimanfaatkan sesudah jamur mengeksresikan enzim-enzim ekstraseluler yang dapat mengurai senyawa-senyawa yang kompleks dari substrat tertentu menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana. Kandungan Selulosa yang tinggi pada kayu sengon dibutuhkan jamur sebagai bahan makanan sedangkan kandungan lignin yang rendah merupakan senyawa nonkarbohidrat yang memiliki sifat tahan terhadap penguraian biologis (Suriawiria, 1993:68).
Diameter tudung jamur tiram pada perlakuan lama pengomposan 7 minggu (U5) dengan rata-rata 7,3 cm berbeda nyata dengan perlakuan lama pengomposan 4 minggu (U2) dan media kontrol (U1). Hal ini disebabkan pada pengomposan 7 minggu (U5) bahan-bahan organik telah terdekomposisi dengan baik oleh bantuan bakteri-bakteri pendekomposisi yang terdapat pada EM-4 (kompos sudah matang) sedangkan pada perlakuan lama pengomposan 4 minggu kompos masih dalam tahap aktif yaitu dalam proses penguraian bahan organik yang belum sempurna. Kemudian lama pengomposan 7 (U5) minggu tidak berbeda nyata dengan lama pengomposan 6 minggu (U4) dan 5 minggu (U5). Hal ini disebabkan karena setelah minggu ke-5 dan ke-6 sebagian besar bahan telah terurai, maka suhu akan berangsur-angsur mengalami penurunan. Pada saat ini terjadi pematangan kompos dan bahan-bahan organik telah terurai dengan baik (Anonim, 2008b: 3) dan terlihat dari pH yang diamati yaitu pada perlakuan 6 minggu (U4) mempunyai pH 6,59 tidak berbeda dengan pH yang diamati pada perlakuan lama pengomposan 5 minggu (U3) yaitu sebesar 6,49.
Pada pengukuran kadar air jamur tiram (%), tidak menunjukkan pengaruh terhadap pertumbuhan jamur tiram. Hal ini disebabkan karena penyiraman air pada media jamur tiram telah merata, pada pengukuran kadar air rata-rata didapat pada semua perlakuan berkisar antara 80-90%. Hal ini menunjukkan kadar air relatif sama, sesuai dengan kadar air jamur tiram segar pada umumnya mengandung kadar air sebesar 80-90,7% air (Anonim, 2006).
Pengomposan secara sederhana dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap aktif dan tahap pematangan. Selama tahap-tahap awal proses pengomposan yaitu pada minggu ke-1 dan ke-2, oksigen dan senyawa-senyawa yang mudah terdegradasi akan segera dimanfaatkan oleh mikroba mesofilik. Suhu tumpukan kompos akan meningkat dengan cepat mikroba mulai bekerja, suhu mencapai 45-65oC karung terasa hangat bila dipegang. Demikian pula akan diikuti dengan peningkatan pH kompos. Pada Minggu ke-3 dan ke-4 suhu akan terus meningkat hingga di atas 50o - 70o C. Suhu akan tetap tinggi selama waktu tertentu. Mikroba yang aktif pada kondisi ini adalah mikroba termofilik, yaitu mikroba yang aktif pada suhu tinggi. Pada saat ini terjadi dekomposisi/penguraian bahan organik yang sangat aktif. Mikroba-mikroba di dalam kompos dengan menggunakan oksigen akan menguraikan bahan organik menjadi CO2, uap air dan panas. Setelah minggu ke-5 dan ke-6 sebagian besar bahan telah terurai, maka suhu akan berangsur-angsur mengalami penurunan. Pada saat ini terjadi pematangan kompos, kompos bisa disimpan di dalam karung sebelum digunakan (Anonim, 2008b:1-3).
Bahan organik yang terdapat pada serbuk kayu sengon didekomposisi oleh mikroba-mikroba pada EM-4, bahan organik yang berguna untuk mendukung proses pengomposan adalah karbon (C) dan nitrogen (N). Rasio dan perbandingan jumlah karbon dan nitrogen dalam bahan organik dinamakan rasio karbon : nitrogen atau rasio C/N. Nitrogen merupakan unsur hara paling penting dan jika tersedia dalam bahan organik awal maka unsur hara lainnya tersedia pula dalam jumlah cukup. Perbandingan karbon dengan nitrogen (C/N) yang baik bagi pengomposan berkisar antara 20 hingga 40/1. Jika perbandingannya jauh lebih tinggi, maka prosesnya akan memakan waktu yang lama, sedangkan bila lebih kecil maka nitrogen akan dilepaskan sebagai amonia (Sulaeman, 2006:2).
Pada berat basah dan berat kering jamur tiram, pada perlakuan lama pengomposan 7 minggu (U5) berbeda nyata dengan perlakuan lama pengomposan 5 dan 4 minggu (U4 dan U3) serta kontrol (U1). Hal ini disebabkan penguraian (dekomposisi) bahan-bahan organik pada lama pengomposan telah matang. Hal ini terlihat dari pH media akhir pada lama pengomposan 7 minggu mendekati netral yaitu 6,85 menurut Suriawiria (2009:38) media tanam yang baik bagi jamur tiram mendekati pH netral.
Bio-aktivator yang digunakan dalam penelitian ini adalah EM-4, yaitu berupa larutan dengan pH 3,5-4,0. Larutan yang terdiri dari mikroorganisme aerob dan anaerob. Kandungan EM-4 terdiri dari bakteri fotosintetik, bakteri asam laktat, actinomicetes, ragi dan jamur fermentasi. Bakteri fotosintetik membentuk zat-zat bermanfaat yang menghasilkan asam amino, asam nukleat dan zat-zat bioaktif yang berasal dari gas berbahaya dan berfungsi untuk mengikat nitrogen dari udara. Bakteri asam laktat berfungsi untuk fermentasi bahan organik jadi asam laktat, mempercepat perombakan bahan organik, lignin dan selulosa, dan menekan pathogen dengan asam laktat yang dihasilkan. Actinomicetes menghasilkan zat anti mikroba dari asam amino yang dihasilkan bakteri fotosintetik. Ragi menghasilkan zat anti biotik, menghasilkan enzim dan hormon (Nita, 2005:1).
Selain bio-aktivator, faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan jamur tiram adalah pH. pH substrat sangat penting untuk pertumbuhan fungi, karena enzim-enzim tertentu hanya akan mengurai suatu substrat sesuai dengan aktivitasnya ada pH tertentu, umumnya fungi menyukai pH dibawah 7,0 (Gandjar, et al, 2006:45). Berdasarkan penelitian ini didapatkan hasil pH akhir media tertinggi terdapat pada media tanam serbuk kayu sengon dengan lama pengomposan 7 minggu (U5) yaitu mempunyai rata-rata pH 6,85 berbeda nyata dengan perlakuan lama pengomposan 4 minggu (U2) yaitu rata-ata pH 6,05 dan media kontrol (U1) yaitu rata-rata pH 6,27. Hal ini berbanding lurus dengan hasil diameter jamur, berat basah dan berat kering jamur, ini dikarenakan pada perlakuan lama pengomposan 7 minggu serbuk kayu sengon yang dikomposkan telah dalam keadaan matang. Menurut isro’i (2008b:1) pH yang optimun untuk proses pengomposan adalah berkisar 6,5–7,5. pH kompos yang sudah matang biasanya mendekati netral (7). Dengan pH yang hampir mendekati 7 (6,85) perlakuan lama pengomposan 7 minggu dapat dikatakan telah matang dan bahan-bahan organik di dalamnya telah terdekomposisi dengan baik, sehingga kandungan bahan organik (Selulosa) dapat dimanfaatkan oleh jamur tiram untuk tumbuh, lalu berdasarkan kondisi lingkungan bahwa tubuh buah jamur tiram tumbuh optimal pada lingkungan yang agak terang dan kondisi keasaman agak netral (pH 6,8-7,0) (Marlina dan siregar, 2001:16) sehingga pada lama pengomposan 4 minggu (U2), 5 minggu (U3), dan 6 minggu tubuh buah jamur tiram belum tumbuh secara optimal.
Pertumbuhan jamur pada awalnya diawali dengan spora yang berkecambah lalu kemudian membentuk hifa, selanjutnya hifa berkembang membentuk seperti anyaman disebut miselium. Karena penyebaran miselium pada permukaan substrat, miselium dari 2 strain miselium yang berbeda (+ dan -) akan bersinggungan dan dinding selnya larut, kemudian 2 miseliun lawan jenis yang serasi mengadakan kontak, peleburan hifa yang diikuti oleh pertukaran nukleus untuk menghasilkan dikarion yang masih haploid. Heterotalisme banyak terjadi diantara basidiomycetes. Karena itu, basidiosora haploid yang dipisahkan berkecambah menjadi miselia haploid yang tidak dapat membentuk tubuh buah. Kedua macam nukleus ini secara berpasangan ada disetiap ruang miselium septat. Selama pertumbuhan dikarion itu, kedua macam nukleus ini membelah serempak. Miselium dikariotik (sel dengan 2 inti) dapat melanjutkan pertumbuhan somatiknya untuk waktu yang lama, dan selama itu tidak pernah terjadi peleburan antara nuklei yang berpasangan. Penyatuan nukleus hanya terjadi pada waktu fruktifikasi (pembentukan tubuh buah), ketika basidia dihasilkan dan segera diikuti meiosis pada setiap basidium dengan menghasilkan empat nukleus haploid yang siap untuk memasuki basidiospora (tumbuh menjadi tubuh buah) (Stainer, et al., 1982:34)
Jamur tiram merupakan jenis jamur makroskopis yang tidak memiliki klorofil, tetapi memiliki inti, spora dan merupkanan sel-sel lepas atau bersambung membentuk benang yang bersekat atau tidak bersekat yang disebut hifa. Hifa ini terdiri atas sel-sel yang berinti satu dan haploid, dan menyatu membentuk suatu jaringan yang disebut miselium. Miselium inilah yang akan membentuk sporangium yang tumbuh menjadi pin head (tunas atau calon tubuh buah jamur) dan akhirnya berkembang menjadi jamur (tubuh buah). Pada awal perkembangannya miselium, jamur melakukan penetrasi dengan melubangi dinding sel kayu. Proses penetrasi dinding sel kayu dibantu oleh enzim pemecah selulosa, hemiselulosa, dan lignin yang dieksresikan oleh jamur melalui ujung lateral benang-benang miselium. Enzim mencerna senyawa kayu (Selulosa, Hemiselulosa,dll) yang dilubangi sekaligus memanfaatkannya sebagai sumber makanan jamur (Djarijah, 2001:13-14).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jamur tiram selain pH, Substrat yaitu suhu, kelembapan, bahan kimia. Menurut Darnety (2006:12) jamur dapat tumbuh pada kisaran suhu yang lebih luas. Kebanyakan jamur tumbuh pada kisaran suhu anatara 0 samapai 35o C. Begitu juga menurut Djarijah (2006:16) miselium jamur tumbuh optimal pada suhu 25 sampai 30o C, sedangkan tubuh buah dari sebagian besar spesies jamur tiram tumbuh optimal pada suhu 18 samapi 20o C.
Kelembaban dibutuhkan oleh jamur untuk menumbuhkan spora dan miselium. Masa pertumbuhan miselium membutuhkan kelembapan udara antara 65%-70%, tetapi untuk merangsang pertumbuhan tunas dan tubuh buah membutuhkan kelembapan udara sekitar 80%-86%. Tunas dan tubuh buah jamur yang tumbuh pada kelembaban udara dibawah 80% akan mengalami gangguan absorpsi (Penyerapan) nutrisi sehingga menyebabkan kekeringan dan gangguan pertumbuhan ataupun kematian (Djarijah, 2001:16-17).
BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang pengaruh lama pengomposan serbuk gergaji kayu sengon (Albizia Falcataria(L.) Fosberg) dengan menggunakan EM-4 (Effective Microorganism-4) terhadap pertumbuhan jamur tiram (Pleurotus Ostreatus(Jacq. Ex.Fr) Kummer), dapat disimpulkan bahwa lama pengomposan yang berbeda dan dengan menggunakan EM-4 (Effective Microorganism-4) memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan jamur tiram yang dihasilkan, diameter, berat basah, berat kering jamur tiram dan pH tertinggi yaitu pada lama pengomposan 7 minggu (U5).

5.2 Saran
Disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan tentang pengaruh konsentrasi menggunakan EM-4 (Effective Microorganism-4) yang berbeda dengan lama pengomposan 7 minggu dan dilakukan pengukuran rasio karbon (C) dan nitrogen (N) media.







DAFTAR RUJUKAN

Anonim, 2000. Deskripsi Jenis Tanaman Hutan Sumatera. Balai Perbenihan Tanaman Hutan. Palembang.

Anonim, 2003. Pemanfaatan limbah industri. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi Jambi.

Anonim, 2004. Diakses Tanggal 12 Oktober 2009. Jamur Tiram Putih. http://Agromania.com.

Anonim , 2006. Profil jamur. Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran & Biofarmaka, Jakarta.
Anonim, 2007. Diakses tanggal 10 Oktober 2009. Halaman 4-7. Limbah Industri Kayu. http://www.winfighter.com.

Anonim, 2008a. Diakses tanggal 17 Oktober 2009. Kompos: Dari Tanah Kembali Ke Tanah. http://isroi.com/2008/11.

Anonim, 2008b. Diakses tanggal 22 Oktober 2009. Cara Membuat Kompos (Metode Karung). http://kampungantenan.com/2008/03/kompos-dalam-karung.html.

Anonim, 2009a. Diakses pada tanggal 20 Oktober 2009. Kompos. http://pengoposankayu/komposdaritanahkembali ketanah/.

Anonim, 2009b. Diakses pada tanggal 23 Oktober 2009. Kayu keras dan kayu lunak. http://kayu/kayulunakkerasa/.

Anonim, 2010a. Diakses tanggal 12 Mei 2010. Antara news. http://www.m.antaranews.com
Anonim, 2010b. Diakses tanggal 18 Agustus 2010. Selulosa. Program Studi Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta. http://www.egytex.com.

Asngad, A dan Suparti, 2005. Diakses tanggal 10 Oktober 2009. Model Pengembangan Pembuatan Pupuk Organik dengan Inokulan (Studi Kasus Sampah Di Tpa Mojosongo Surakarta). Jurnal Penelitian Sains & Teknologi, Vol. 6, No. 2, http://jurnalilmiah.ac.id.

Atmosuseno, 1996. Komposisi Kimia Kayu. Jakarta: Djambatan.
Cahyadi, W., 2006. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. Jakarta: Bumi Aksara.
Darnety. 2006. Pengantar Mikologi. Kampus Unand Limau Manis: Andalas University Press.

Dumanauw. J.F., 2001. Mengenal Kayu. Yogjakarta: Kanisius.

Dwijoseputro, D., 1991. Pengantar Mikologi. Bandung: Alumni.
Djarijah, N.M dan Djarijah, A.S., 2001. Budidaya Jamur Tiram. Yogyakarta: Kanisius.

Gandjar, I. et al., 2006. Mikologi. Dasar dan Terapan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Hadioetomo, R., 1996.Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta: PT. Gramedia.

Haygeen, G.J. dan Bowyer, L.J., 1993. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu. Suatu Pengantar. Gadjah Mada University Press, Yogjakarta.

Hobbs, J.J, dan King, F.E., 1960. The Chemistry of Exsractive From Hardwoods. Eusiderin a Possible by Produce of Lignin Syntesis In Eusideroxylon zwagery, J. Chem. Soc.

Isroi. 2008a. Diakses tanggal 24 oktober 2009. KOMPOS. Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, Bogor. http://www.isroi@ipard.com.

Isroi. 2008b. Diakses tanggal 24 oktober 2009. Pengomposan Limbah Padat Organik. http://www. isroi@ipard.com.
Isroi. 2008c. Diakses tanggal 18 Agustus 2010. Karakteristik Lignoselulosa sebagai Bahan Baku Bioetanol. http://www.scientificpsychic.com/fitness/carbohydrates.html.
Istuti, W dan Nurbana, S., 2008. Budidaya Jamur Tiram. Teknologi Pertanian No. 88 Tahun 2008. Balai Pengakajian Teknologi Pertanian, Jawa Timur.

Kimball, J.W. 1994. BIOLOGI. Edisi Kelima Jilid I. Jakarta: Erlangga.

Lasmidha, W. 2007. Analisis Komponen Kimia Akasia Hybrid Dalam Pemanfaatannya Sebagai Bahan Baku Pulp dan Kertas, Skripsi, Universitas Bengkulu: Bengkulu.

Mangunwardoyo, W., 1997. Biodegadasi Lignoselulosa. Pelatihan Singkat Mikrobiologi dalam Pemanfaatan limbah Selulosa. Kampus Universitas Indonesia. Juli 7-12, Depok.

Mattjik, A.A dan Sumertajaya, M. 2000. Perancangan Percobaan. Jilid I Edisi Kedua. Bogor: IPB PRESS.

Mudyantini, W. 2008. Pertumbuhan, Kandungan selulosa dan Lignin Rami (Boehmeria nivea(L.) Gaudich) dengan Pemberian Asam Giberelat (GA3), Skripsi, Universitas Sebelas Maret (UNS),Surakarta.

Muchroji dan Cahyana, Y.A. 2003. Budidaya Jamur Tiram. Penebar swadaya, Jakarta.

Nasution, A.S. 2008. Diakses tanggal 17 Oktober 2009. Mengenal kayu sengon. http://Dephut.go.id/budidaya kayusengon.


Nita, Wayan. 2005. Menakar Kandungan Komposisi EM-4. Diakses pada tanggal 6 Maret 2010. http:/pak oles.com.

Stainer, R.Y. et al., 1982. Dunia Mikrobe. Bhratara karya aksara, Jakarta.
Suhardiman, P., 1989. Jamur Kayu.Penebar Swadaya, Jakarta.

Sulaeman, D., 2006. Pengomposan: Salah satu Alternatif pengolahan sampah organik. Direktorat Pengolahan Hasil Pertanian, Departemen Pertanian.

Sumardi. 1999. Diakses tanggal 22 Mei 2008. Pembuatan Kapang dengan Teknologi Fermentasi. http://www.google.com/kompos2.html.

Sumarmi, 2006, Botani Dan Tinjauan Gizi Jamur Tiram Putih, Jurnal Inovasi Pertania, Vol. 4, No. 2, 2006: 124-130.

Sumiati,E. dan D.Djuariah, 2005. Diakses tanggal 15 Agustus 2010. Perbaikan Teknologi Produksi Jamur Tiram dengan Variasi Waktu Perendaman Media Tumbuh Serbuk Kayu Gergaji J.Hort. Vol.15 No. (3):177-183, http://jurnalilmiah.ac.id.

Sunarmi, Y.I dan Saparinto, C., 2010. Usaha 6 Jenis Jamur Sekala Rumah Tangga. Penebar Swadaya, Jakarta.

Suprapti, S., dan Djarwanto.1997. Teknik Budidaya Jamur Kayu. Pelatihan Singkat Mikrobiologi Dalam Pemanfaatan Limbah Lignoselulosa. Jurusan Biologi Fakuktas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Indonesia, Depok.

Suriawiria, U., 1993, Petunjuk Teknis Budidaya Jamur Kayu. Penataran Penyegaran Mikrobiologi bagi Staf Pengajar Biologi, Juli 20-25, Medan.

Suriawiria, U., 2000. Jamur Konsumsi dan Berkhasiat Obat. Penebar Swadaya, Jakarta.

Suriawiria, U., 2009. Sukses Beragronomi Jamur Kayu: Shittake, Kuping, Tiram. Cimanggis, Depok. PT. Penebar Swadaya, anggota Ikapi, Jakarta.

Tjitrosoepomo, G., 2000. Taksonomi Tumbuhan (spermatophyta). Gadjah Mada University Press, Jakarta.
Widya, G.A., 2007. Usaha Pembibitan Jamur. Penebar Swadaya, Jakarta.





















LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran 1. Denah Percobaan
Denah Percobaan
U2.(2) U3.(4) U1.(4) U1.(1) U2.(4)
U3.(3) U4.(1) U5.(3) U4.(3) U1.(3)
U5.(1) U5.(5) U1.(2) U4.(2) U3.(5)
U5.(2) U2.(3) U3.(1) U4.(4) U5.(4)
U1.(5) U3.(2) U2.(5) U4.(5) U2.(1)

Keterangan : Penempatan perlakuan pada setiap ulangan dilakukan secara acak.
U1 s/d 5…….. Kode perlakuan
1 s/d 5……….Nomor ulangan











Lampiran 2: Pengukuran pH media tanam serbuk kayu sengon









share on facebook

0 komentar:

Poskan Komentar